Kamis, 07 April 2011

girl !

Girls

are like apples

on trees. The best ones

are at the top of the tree.


The boys don't want to reach

for the good ones because they

are afraid of falling and getting hurt.


Instead, they just get the rotten apples

from the ground that aren't as good,

but easy. So the apples at the top think

something is wrong with them, when in

reality, they're amazing. They just

have to wait for the right boy to

come along, the one who's

brave enough
to

climb all

the way

to the top

of the tree.

kepada Bi

Bi, mungkin bukan aku yang kau harapkan membaca isyarat kesepianmu.
Demi Tuhan, sungguh, aku ingin menolak kenyataan ini bila mampu...
Sayang, sepanjang kudapati matahari yang terbit dan terbenam, tak pernah sekalipun cahaya aurora muncul sebagai pertanda bagiku untuk kemudian beringsut pergi, menjauh, lantas kemudian menepi dari ini semua.
Kejora di sana malah menuntunku untuk terus menemukan sepetak jalan menuju pintumu.
Dan, kini, aku ingin berhenti mengorbit karena hatiku telah merasakan ada dirimu...

Tolong, berhentilah membayangiku.
Kau tak pernah tahu bagaimana rasanya berlari dari siluetmu yang terus menghantuiku.
Aku lelah!
Bahkan, berulang kali, kuharap ini tak perlu ada...
Karena tak akan aku rasakan sakit yang begitu pilu.
Membayangkan engkau ada di situ.
Berkasih dan bercumbu.
Bukan dengan aku!
Bi, kisahku takkan habis di malam keseribu satu.
Maka aku perlu kertas dan pensil lebih banyak lagi.
Karena tangan ini tak bisa berhenti untuk tak menulis tentangmu.

Dan, bila engkau masih ragu padaku, hampirilah jendelaku.
Di sana, kau bisa nikmati waktu yang berhenti mengalir.
Di sana, kau bisa nikmati waktu melambat bagai bulir embun.
Sehingga, kau akan bisa menghitung tetes gerimis yang jatuh.
Sehingga, kau akan tahu, sebanyak itulah aku memikirkanmu...
Kita tak perlu berbicara, kata-kata tak perlu lagi bilang permisi untuk dijadikan suara.
Hanya melalui tatapan mata, kita tahu semua...


Mari, mendekatlah.
Akan kuperlebar celah hati.
Membiarkan engkau meresap lebih dalam.
Melengkapi ruang-ruang kosongnya.
Karena di sanalah engkau akan hadir.
Sebagai imaji terindah yang tak mampu kurengkuh.
Sedalam apapun samudra yang kuselami, hanya ada kamu dan selalu kamu.
Setinggi apapun gunung itu kudaki, senyummu lagi, senyummu lagi yang kutemui tergantung di rembulan.
Sementara, aku tetap di sini, mengagumimu dalam ketiadaan harapan...

Bi, aku tak peduli bagaimana kau mau mengerti.
Aku tahu diri.
Yang kupunya terlalu sederhana untuk kau miliki.
Dan, aku tak peduli.
Bila kisah ini akan meninggalkan jejak menjadi bentuk masa lalu.
Karena di sanalah aku.
Kurasa kau tahu.



Surabaya, 9 September 2008
*coppas

Minggu, 03 April 2011

awan - kamu - aku

Awan selalu bergerak, berarak bersamaan. Kadang, jika manusia benar-benar memperhatikan, dari arah dan lintasan awan itu mereka akan bisa menemukan bentuk-bentuk tidak masuk akal. Dan bagi mereka yang cukup beruntung untuk tau apa makna darinya, akan terhenyak dan menggumam, berpikir tentang apa yang barusan dilihatnya.

Orang bilang, ketika kamu menemukan wajah orang yang kamu sayangi dibentuk oleh awan, tandanya dia sedang merindukanmu. Terbujuk dengan kiasan ala dongeng 1001 malam itu, dengan bodoh dan polos aku mencoba mencari, dari arah manapun yang bisa kujangkau. Aku mencari seukir wajah yang tidak setampan pemeran Percy Jackson; tidak juga sememikat Chace Crawford. Aku, mencari wajahmu di langit sana.


Lalu, hey, aku menemukannya. Ya, di sana. Wajahmu begitu lembut dengan senyum jenakamu yang selalu aku idolakan. Aku suka senyummu, apalagi ketika aku yang membuatnya terukir.


Tiba-tiba aku menangis—seperti gadis kecil manja yang ingin permen—ketika wajahmu hilang dari langit. Aku menangis karena sekarang aku yang merindukan wajah itu. Setelah sekian lama dari terakhir kali aku dan kamu bahagia bersama, aku merindukanmu. Lagi. Dengan cara yang sungguh lucu dan bodoh, karena sebenarnya aku tidak boleh.


Aku rindu caramu tersenyum kepadaku, lalu kubalas dengan cengiran jahil.


Aku rindu caramu menggandeng tanganku, karena kamu membiarkanku mencakar tanganmu seperti anak kecil, yang (lagi-lagi) manja.


Aku rindu kamu berkata “nggak boleh” ketika aku berbuat aneh-aneh dan bisa membahayakan diriku sendiri. Lalu dengan nakalnya aku tidak menggubris laranganmu dan malu ketika terluka karena perbuatanku sendiri. Saat itu kamu tidak pernah menyalahkan atas kenakalanku, kamu malah mengulurkan tangan dan membantuku berdiri lagi. Tersenyum.


Aku rindu caramu mengomel panjang pendek waktu kamu sedang kesal, dan aku tau itu adalah caramu ingin diperhatikan. Tapi aku malah masa bodoh dan memberikan respon datar-datar saja.


Aku rindu caramu melucu di saat apapun. Kamu selalu bisa membuatku tertawa setelah seharian berkutat dengan rutinitas yang membosankan. Hanya kamu yang bisa membuatku tertawa lepas, begitu bahagia.


Aku rindu caramu membantuku menyeberang di jalan raya, karena kamu menyuruhku berjalan di arah yang tidak dilalui kendaraan dan membiarkan dirimu yang menghadap kendaraan-kendaraan itu. Aku merasa aman.


Aku rindu caramu bilang “aku sayang kamu” karena meskipun kamu sering sekali bilang seperti itu, entah kenapa selalu bisa membuat pipiku bersemu merah dan mencoba bersikap biasa, padahal sebenarnya tidak. Sama sekali tidak.


Aku rindu caramu memperhatikanku seperti orang tua. Sudah makan? Sudah sholat? Ayo cepat tidur. Makan yang banyak. Ayo belajar. Jangan facebook-an terus. Cepetan mandi, bau ntar badanmu. Cepetan berangkat les, bolos terus.


Aku rindu caramu memanggil aku “sayang” dengan suara yang dikecilkan dan malu-malu.


Aku rindu dimengerti, meskipun aku sangat menyebalkan, manja, keras kepala, semaunya sendiri, dan nggak perhatian.


Aku rindu waktu kamu mengedipkan satu mata ke arahku saat kamu ada di tengah lapangan. Aku merasa spesial.


Aku rindu menjalani sehari penuh dengan gembira, tanpa mengeluh, bersemangat karenamu. Aku rindu hidup bahagia setiap hari.


Aku merindukan terlalu banyak hal tentangmu, tanpa bisa mengalami satupun sekali lagi. Aku merindukan semua itu—bahkan mungkin lebih. Entahlah, aku tidak mampu mencarinya lagi. Karena air mata ini pasti menjadi bendungan, seperti hujan deras berhari-hari. Tapi hujanku tidak ada yang tahu. Bendungan ini seperti tak tampak, tersembunyi di balik tawa dan senyumku.


Jika aku diizinkan untuk mengirim sesuatu untuk kamu, mungkin aku akan mengirim foto awan yang waktu itu membentuk wajahmu. Dengan kata-kata manis. Dengan salam rindu. Tapi kemudian aku meremas surat itu dan melemparnya ke bendungan tangisku. Aku memilih membiarkannya rusak dan akhirnya hilang. Aku tidak mau ada yang tahu bahwa aku masih berusaha mencari wajahmu di langit. Aku tidak ingin ada yang tahu, aku tidak ingin dikasihani.


Biarkan ketidak tahuanmu tentang ini yang akan membantumu untuk menemukan seseorang di luar sana; yang jauh, lebih baik daripada aku. Aku ingin kamu bahagia. Aku ingin kamu dicintai, bukan denganku.


Dan bila kamu melihat wajahku di awan, ingatlah bahwa aku hanya mampir sebentar tapi merusak banyak hal di hidupmu. Aku sudah sangat menyusahkanmu, dan aku tidak pantas berlaku seperti itu kepada orang yang sangat baik—kamu.


Kamu memang jarang sekali merenung dan menengadah ke langit seperti aku, tapi semesta di atas bumi yang luas di sekitarmu itu akan selalu menampakkan wajahku. Sesering manusia bernafas. Sesering kecelakaan terjadi di bumi. Karena sesering itulah aku merindukanmu. Tapi aku sudah berpesan kepada Tuhan untuk tidak pernah menampakkannya…


Semoga Dia mengabulkan.

Jumat, 14 Januari 2011

Surat untukmu, Tuhan :')

Ya Tuhan.. sekarang, aku benerbener pengen nangis. Tapi airmataku bahkan nggak mengizinkanku untuk menitikkan air mata.. Aku coba buat nangis, mengingat semua yang pernah terjadi, dengerin lagu itu, biar aku bisa nangis. Biar aku lega. Tapi tetep aja, rasanya susah banget ngejatuhin airmata ini. Tuhan, kalo boleh curhat.. Sekarang dia udah pergi, Tuhan. Dia udah ninggalin aku sendiri disini yang sedang menangis. Dia sudah berjalan jauh ke arah yang berbeda.. Dia sudah menemukan jalannya. Dia tidak akan berjalan menemuiku lagi.. Jangankan untuk menemuiku, menoleh padaku saja rasanya dia enggan melakukannya. Bahkan hanya datang dan memperlihatkan wajahnya di mimpi saja tidak..

Tuhan, sampai saat ini aku tidak pernah tau apa kesalahan yang telah ku perbuat hingga akhirnya dia meninggalkanku disini tanpa beban. Apa salahku Tuhan? Apa kesalahanku benar benar fatal? Jawab pertanyaanku, Tuhan! Kirimkan merpati yang bisa membawa titipan jawaban yang kau tulis di surat. Bisa, Tuhan?

Tuhan.. dulu dia pernah berjanji untuk tetap ada bersamaku, menemaniku. Dia berjanji tidak akan melepaskan genggaman tangannya sedetikpun. Selalu berada di sisiku untuk menjagaku.. Tapi kali ini? Dia bahkan pergi dengan senyuman yang masih melekat di bibirnya.. Dia pergi dengan tanpa beban, meninggalkan aku yang penuh dengan air mata dan tangisan. Begitu mudah dia melepaskan janjinya dulu? Mana janjinya padaku, Tuhan?

Tuhan.. jika sekarang aku menginginkannya kembali, apa aku bisa meraihnya? Dia terlalu jauh, Tuhan. Aku tidak dapat menjangkaunya kembali. Jaga dia, Tuhan.. Beri dia wanita yang tepat yang bisa membuat dia tersenyum, jika memang aku adalah wanita terburuk yang pernah ada untuknya. Ku titipkan dia padamu, juga pada wanita yang akan bersamanya. Dan tolong, Tuhan! Jangan siksa dia sedikitpun, ku mohon.. Suruh dia untuk tetap tersenyum untukku walau dunianya dan duniaku sudah tidak lagi sama, sudah berbeda.

Kutunggu balasan suratmu, Tuhan.
Isya

#terinspirasi dari teman saya Intan Permata Sari dan Dear Putri Mandira :)

Baca Artikel lainnya

MySpace glitter graphics: CoolSpaceTricks.com